Main » 2013»March»20 » 6 Orang Jenius asal Indonesia yang Sukses di Luar Negeri
1:34 PM
6 Orang Jenius asal Indonesia yang Sukses di Luar Negeri
1. Prof Nelson Tansu, PhD- Pakar Teknologi Nano
Berita dari Medan itu membuat Nelson Tansu lemas. Di Universitas Lehigh,
Pennsylvania, Amerika Serikat, tempatnya bekerja sehari-hari, Agustus 2
tahun lalu ia meradang. Kabar itu demikian membuatnya shocked: mama
tercintanya, Auw Lie Min, dan papa tersayangnya, Iskandar Tansu,
direktur percetakan PT Mutiara Inti Sari, tewas. Mereka dibunuh oleh
perampok di area perkebunan karet PTPN II Tanjung Morawa.
Peristiwa itu sempat membuatnya "tak percaya" terhadap Indonesia. Pria
kelahiran 20 Oktober 1977 ini adalah seorang jenius. Ia adalah pakar
teknologi nano. Fokusnya adalah bidang eksperimen mengenai semikonduktor
berstruktur nano.
Teknologi nano adalah kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa masa
depan. Inovasi-inovasi teknologi Amerika, yang mempengaruhi kehidupan
sehari-hari seluruh orang di dunia, bertopang pada anak anak muda
brilian semacam Nelson. Nelson, misalnya, mampu memberdayakan sinar
laser dengan listrik superhemat. Sementara sinar laser biasanya perlu
listrik 100 watt, di tangannya cuma perlu 1,5 watt.
Penemuan-penemuannya bisa membuat lebih murah banyak hal. Tak
mengherankan bila pada Mei lalu, di usia yang belum 32 tahun, Nelson
diangkat sebagai profesor di Universitas Lehigh. Itu setelah ia
memecahkan rekor menjadi asisten profesor termuda sepanjang sejarah
pantai timur di Amerika. Ia menjadi asisten profesor pada usia 25 tahun,
sementara sebelumnya, Linus Pauling, penerima Nobel Kimia pada 1954,
menjadi asisten profesor pada usia 26 tahun. Mudah bagi anak muda
semacam Nelson ini bila ingin menjadi warga negara Amerika.
Amerika pasti menyambutnya dengan tangan terbuka. "Apakah tragedi orang
tuanya membikin Nelson benci terhadap Indonesia dan membuatnya ingin
beralih kewarganegaraan?" "Tidak. Hati Saya tetap melekat dengan
Indonesia," katanya kepada Tempo. Nelson bercerita, sampai kini ia getol
merekrut mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan riset S-2 dan S-3 di
Lehigh. Ia masih memiliki ambisi untuk balik ke Indonesia dan menjadikan
universitas di Indonesia sebagai universitas papan atas di Asia.
Jawaban Nelson mengharukan. Nelson adalah aset kita. Ia tumbuh cemerlang
tanpa perhatian negara sama sekali. Bila Koran Tempo kali ini
menurunkan liputan khusus mengenai orang-orang seperti Nelson, itu
karena koran ini melihat sesungguhnya kita cukup memiliki ilmuwan dan
pekerja profesional yang berprestasi di luar negeri. Diaspora kita bukan
hanya tenaga kerja Indonesia. Kita memiliki sejumlah Nelson lain—di
Amerika, Eropa, dan Jepang. Orang orang yang sebetulnya, bila
diperhatikan pemerintah, akan bisa memberikan sumbangan berarti bagi
kemajuan Indonesia.
2. MUHAMMAD ARIEF BUDIMAN: MERAH-PUTIH DI SAINT LOUIS
Matahari setengah rebah di Medari, Sleman, Yogyakarta. Asar sudah
datang. Zakaria bergegas mencari anaknya, Muhammad Arief Budiman. Dia
bisa berada di mana saja: di sawah, di kebun salak pondoh, atau—jika
sedang beruntung—ia akan ditemukan di sekitar rumah. Zakaria harus
menemukannya sebelum matahari terlalu rebah, agar anaknya tak melewatkan
salat asar dan mengaji di musala.
Saint Louis, Missouri, Amerika Serikat. Tiga puluh tahun kemudian....
Di sebuah ruang kerja di kompleks Orion Genomic, salah satu perusahaan
riset bioteknologi terkemuka di negeri itu, seorang lelaki Jawa berwajah
"dagadu"—sebab senyum tak pernah lepas dari bibirnya—kerap terlihat
sedang salat. Dialah anak Zakaria itu. Pada mulanya bercita-cita menjadi
pilot, lalu ingin jadi dokter karena harus berkacamata sewaktu SMP,
anak pekerja pabrik Tekstill GKBI itu sekarang menjadi Motor riset utama
di Orion. Jabatannya: Kepala Library Technologies Group. Menurut
BusinessWeek, ia merupakan satu dari enam eksekutif kunci perusahaan
genetika itu.
Genetika adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari gen, pembawa sifat
pada makhluk hidup. Peran ilmu ini bakal makin sentral di masa depan:
dalam peperangan melawan penyakit, rehabilitasi lingkungan, hingga
menjawab kebutu*an pangan dunia.
Arief tak hanya terpandang di perusahaannya. Namanya juga moncer di
antara sejawatnya di negara yang menjadi pusat pengembangan ilmu
tersebut: menjadi anggota American Society for Plant Biologists dan—ini
lebih bergengsi baginya karena ia ahli genetika
tanaman—American Association for Cancer Research.
Asosiasi peneliti kanker bukan perkumpulan ilmuwan biasa. Dokter
bertitel PhD pun belum tentu bisa "membeli" kartu anggota asosiasi ini.
Agar seseorang bisa menjadi anggota asosiasi ini, ia harus aktif
meneliti penyakit kanker pada manusia. Ia juga harus membawa surat
rekomendasi dari profesor yang lebih dulu aktif dalam riset itu serta
tahu persis riset dan kontribusi orang itu di bidang kanker. Arief
mendapatkan kartu itu karena, "Meskipun latar belakang saya adalah
peneliti genome tanaman, saya banyak melakukan riset genetika mengenai
kanker manusia," ujarnya.
Kita pun seperti melihat sepenggal kecil sejarah Indonesia yang sedang
diputar ulang. Pada akhir 1955, ahli genetika (dulu pemuliaan) tanaman
kelahiran Jawa yang malang-melintang di Eropa dan Amerika, Joe Hin Tjio,
dicatat dengan tinta emas dalam sejarah genetika karena temuannya
tentang genetika manusia. Ia menemukan bahwa kromosom manusia berjumlah
46 buah—bukan 48 seperti keyakinan ahli genetika manusia di masa itu
("The ChromosomeNumber
of Man. Jurnal Hereditas vol. 42: halaman 1-6, 1956). Tjio—lahir pada
1916, wafat pada 2001—bisa menghitung kromosom itu dengan tepat setelah
ia menyempurnakan teknik pemisahan kromosom manusia pada preparat gelas
yang dikembangkan Dr T.C. Hsu di Texas University, Amerika Serikat.
3. Prof Dr. KHOIRUL ANWAR: TERINSPIRASI KISAH FIRAUN
Bangkai burung, balsam gosok, dan kisah mumi Firaun. Siapa mengira tiga
benda sepele itu ada gunanya. Tapi itulah trio yang "menghidupkan” pria
kampung seperti Khoirul Anwar. Dia kini menjadi ilmuwan top di Jepang.
Wong ndeso asal Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang, Kabupaten
Kediri, Jawa Timur, itu memegang dua paten penting di bidang
telekomunikasi. Dunia mengaguminya. Para ilmuwan dunia berkhidmat ketika
pada paten pertamanya Khoirul, bersama koleganya, merombak pakem soal
efisiensi alat komunikasi seperti telepon seluler.
Graduated from Electrical Engineering Department, Institut Teknologi
Bandung (with cum laude honor) in 2000. Master and Doctoral Degree is
from Nara Institute of Science and Technology (NAIST) in 2005 and 2008,
respectively. Dr. Anwar is a recipient of IEEE Best Student Paper award
of IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS) 2006, California, USA.
.
Prof Dr. Khoirul Anwar adalah pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division
Multiplexing) adalah seorang Warga Negara Indonesia yang kini bekerja
di Nara Institute ofScience and Technology, Jepang.
Dia mengurangi daya transmisi pada orthogonal frequency division
multiplexing. Hasilnya, kecepatan data yang dikirim bukan menurun
seperti lazimnya, melainkan malah meningkat. "Kami mampu menurunkan
power sampai 5dB=100 ribu kali lebih kecil dari yang diperlukan
sebelumnya,” kata dia. Dunia memujinya. Khoirul juga mendapat
penghargaan bidang Kontribusi Keilmuan Luar Negeri oleh Konsulat
Jenderal RI Osaka pada 2007.
Pada paten kedua, lagi-lagi Khoirul menawarkan sesuatu yang tak lazim.
Untuk mencapai kecepatan yang lebih tinggi, dia menghilangkan sama
sekali guard interval (GI). "Itu mustahil dilakukan,” begitu kata
teman-teman penelitinya. Tanpa interval atau jarak, frekuensi akan
bertabrakan tak keruan. Persis seperti di kelas saat semua orang bicara
kencang secara bersamaan.
Istilah ilmiahnya, terjadi interferensi yang luar biasa. Namun, dengan
algoritma yang dikembangkan di laboratorium, Khoirul mampu menghilangkan
interferensi tersebut dan mencapai performa (unjuk kerja) yang sama.
"Bahkan lebih baik daripada sistem biasa dengan GI,” kata pria 31 tahun
ini.
Dua penelitian istimewa itu mungkin tak lahir bila dulu Khoirul kecil
tak terobsesi pada bangkai burung, balsam yang menusuk hidung, serta
mumi Firaun. Bocah kecil itu begitu terinspirasi oleh kisah Firaun, yang
badannya tetap utuh sampai sekarang. Dia pun ingin meniru melakukan
teknologi "balsam” terhadap seekor burung kesayangannya yang telah mati.
"Saya menggunakan balsam gosok yang ada di rumah,” kata anak kedua dari
pasangan Sudjianto (almarhum) dengan Siti Patmi itu.
Khoirul berharap, dengan percobaannya itu, badan burung tersebut bisa
awet dan mengeras. Dengan semangat, ia pun melumuri seluruh tubuh burung
tersebut dengan balsam gosok. Sayangnya, hari demi hari berjalan, kata
anak petani ini, "Teknologi balsam itu tidak pernah berhasil.”
Penelitian yang gagal total itu rupanya meletikkan gairah meneliti yang
luar biasa pada Khoirul. Itulah yang mengantarkan alumnus Jurusan Teknik
Elektro Institut Teknologi Bandung tersebut kini menjadi asisten
profesor di JAIST, Jepang. Dia mengajar mata kuliah dasar engineering,
melakukan penelitian, dan membimbing mahasiswa. Saat ini Khoirul sedang
menekuni dua topik penelitian yang dilakukan sendiri dan enam topik
penelitian yang digarap bersama enam mahasiswanya.'
4. Profesor Dr. Ken Kawan Soetanto - Peraih Empat Gelar Doktor dan Juga Peraih 31 Paten di Jepang
Prestasi membanggakan ditorehkan Profesor Dr. Ken Kawan Soetanto. Pria
kelahiran Surabaya ini berhasil menggondol gelar profesor dan empat
doktor dari sejumlah universitas di Jepang. Lebih hebatnya, puncak
penghargaan akademis itu dicapainya pada usia 37 tahun.
Sepintas, penampilan fisiknya nyaris tak berbeda jika dibandingkan
dengan kebanyakan orang Jepang. Kulitnya kuning. Rambut lurusnya,
disisir rapi. Kemejanya yang diseterika licin dipadu jas menunjukkan dia
menyukai formalitas. Tapi, begitu berbicara, akan terkesan bahwa Prof
Soetanto -demikian dia dipanggil- bukan orang Jepang. Bicaranya
ceplas-ceplos dengan logat suroboyoan-nya yang khas.Penemu konsep
pendidikan tinggi "Soetanto Effect" di Negeri Sakura itu beberapa hari
ini berkunjung ke Indonesia. Soetanto mendampingi sejumlah koleganya, Dr
Kotaro Hirasawa (dekan Graduate School Information Production &
System Waseda University) dan Yukio Kato (general manager of Waseda
University), menandatangani memorandum of understanding (MoU) antara
Waseda University dan President University, Jababeka Education Park,
Cikarang, Jawa Barat, Sabtu lalu.
Waseda University adalah perguruan tinggi swasta terbesar di Jepang.
Reputasinya setara dengan universitas negeri semisal Tokyo University,
Kyoto University, atau Nagoya University. Mahasiswa yang berguru di
Waseda University 51.499 orang. Di anatar jumlah itu, 1.234 orang
berasal dari luar Jepang.
Waseda University telah menganugerahkan 81 gelar kehormatan bagi
pemimpin negara, mulai mantan PM India Jawaharlal Nehru (1957) hingga
mantan PM Singapura Lee Kuan Yew (2003). Dari Indonesia, Ketua DPD
Ginandjar Kartasasmita juga pernah belajar di sini.
President University adalah institusi perguruan tinggi berbasis
kurikulum bertaraf internasional yang berlokasi di tengah-tengah sekitar
1.040 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang. Selain putra
berbaik dari Indonesia, para mahasiswa President University berasal dari
China dan Vietnam.
Kehadiran Soetanto tak begitu menyita perhatian publik. Maklum, wakil
dekan Waseda University tersebut hanya "sebentar" memberikan ceramah
populernya di hadapan ratusan mahasiswa dan civitas academica President
University. Dia tak sempat berbagi keilmuan dengan sesama akademisi
seperti UI, UGM, ITB, dan Unair. Sebuah kesempatan yang agak disesalkan
bagi orang dengan kemampuan akademik sekaliber Soetanto.
Prestasi akademik Soetanto bisa dibilang di atas rata-rata. Misalnya,
pada 1988-1993, dia tercatat sebagai direktur Clinical Education and
Science Research Institute (CERSI) merangkap associate professor di
Drexel University dan School Medicine at Thomas Jefferson University,
Philadelphia, AS.
Dia juga pernah tercatat sebagai profesor di Biomedical Engineering,
Program University of Yokohama (TUY). Selain itu, pria kelahiran 1951
tersebut saat ini masih terdaftar sebagai prosefor di almameternya,
School of International Liberal Studies (SILS) Waseda University, serta
profesor tamu di Venice International University, Italia.
Otak arek Suroboyo itu memang brilian. Dia berhasil menggabungkan empat
disiplin ilmu berbeda. Hal tersebut terungkap dari empat gelar doktor
yang diperolehnya. Yakni, bidang applied electronic engineering di Tokyo
Institute of Technology, medical science dari Tohoku University, dan
pharmacy science di Science University of Tokyo. Yang terakhir adalah
doktor bidang ilmu pendidikan di almamater sekaligus tempatnya mengajar,
Waseda University.
"Saya sungguh menikmati pekerjaan sebagai akademisi," kata Soetanto di
sela kesibukannya menyaksikan MoU Waseda University dan President
University.
Di luar status kehormatan akademik tersebut, dia masuk birokrasi di
Negeri Sakura. Pria yang pernah berkawan dengan mantan Presiden RI B.J.
Habibie itu tercatat sebagai komite pengawas (supervisor committee) di
METI (Ministry of Economy, Trade, and Industry atau semacam Menko
Perekonomian di RI).
Selain itu, dia ikut membidani konsep masa depan Jepang dengan terlibat
di Japanese Government 21st Century Vision. "Pada jabatan tersebut, saya
berpartisipasi langsung menyusun GBHN (kebijakan makro)-nya Jepang,"
ungkap Soetanto yang masih fasih berbahasa Indonesia dan Jawa itu. Buah
pemikiran Soetanto terkenal lewat konsep pendidikan "Soetanto Effect"
dan 31 paten internasional yang tercatat resmi di pemerintah Jepang.
Inovasi yang dipatenkan itu mayoritas berlatar bidang keilmuannya, mulai
elektronika engineering, teknologi informasi, penemuan pengobatan
kanker, dan teknik imaging serta bidang farmasi.
Mau tahu berapa dana yang diraih Soetanto untuk membiayai
riset-risetnya? Jumlahnya sangat mencengangkan untuk ukuran akademikus
bergelar profesor atau mereka yang pernah menduduki jabatan tertinggi di
perguruan tinggi (rektor). Kementerian Pendidikan Jepang mendanai
Soetanto sampai USD 15 juta per tahun.
Di antara segudang prestasi itu, bisa jadi yang paling membanggakan,
khususnya bagi warga Surabaya, adalah latar belakang sekolah dasar dan
menengahnya yang ternyata dihabiskan di kota buaya. Soetanto muda
mengenyam pendidikan SD swasta di Kapasari, SMP Baliwerti, dan SMA
Budiluhur yang dulu menjadi jujugan sekolah warga keturunan Tionghoa.
Toh, Soetanto mengaku belum puas. Obsesi terpendamnya adalah bagaimana
karya akademisnya bisa dinikmati orang lain. "Saya berbahagia bila bisa
menyenangkan orang lain," katanya mengungkap visi hidupnya.
Soetanto sempat memberikan buah pemikirannya di hadapan ratusan
mahasiswa President University. Isi ceramah akademisnya menarik
perhatian mahasiswa. Bahkan, beberapa jajaran direksi PT Jababeka,
termasuk Dirut PT Jababeka Setyono Djuandi Darmono. Maklum, Soetanto
membeberkan pengalamannya bisa ’menaklukkan’ dunia perguruan tinggi
Jepang kendati hingga sekarang masih berkewarganegaraan Indonesia.
Selebihnya, Soetanto banyak mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia
yang perlu dirombak lagi agar lulusannya lebih berkualitas. "Sistem
pendidikan di sini (Indonesia) sudah tertinggal jauh", jelas Soetanto
dengan gaya bicara berapi-api.
Ironisnya, penghargaan terhadap staf pengajar atau guru di Indonesia
juga sangat kurang. Soetanto lantas mencontohkan kecilnya gaji guru yang
memaksa mereka harus bekerja sambilan. "Karena faktor tersebut, jangan
heran bila banyak ilmuwan Indonesia mencari penghasilan di luar negeri,"
pungkas Soetanto
5. Prof Dr. Ing BJ Habibie - Pemegang 46 Paten di bidang Aeronautika
Prof. Dr.-Ing. Dr. Sc. H.C. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie lahir
tanggal 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Selatan Indonesia. Anak ke
empat dari delapan bersaudara dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan
R.A. Tuti Marini Puspowardoyo. Dia hanya satu tahun kuliah di Institut
Teknologi Bandung (ITB) karena pada tahun 1955 dia dikirim oleh ibunya
belajar di Rheinisch Westfalische Technische Honuchscule, Aschen Jerman.
Setelah menyelesaikan kuliahnya dengan tekun selama lima tahun, B.J.
Habibie memperoleh gelar Insinyur Diploma dengan predikat Cum Laude di
Fakultas Teknik Mekanik Bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Udara.
Pemuda Habibie adalah seorang muslim yang sangat alim yang selalu
berpuasa Senin dan Kamis. Kejeniusannya membawanya memperoleh Gelar
Doktor Insinyiur di Fakultas Teknik Mekanik Bidang Desain dan Konstruksi
Pesawat Udara dengan predikat Cum Laude tahun 1965.
B.J. Habibie memulai kariernya di Jerman sebagai Kepala Riset dan
Pembangunan Analisa Struktur Hamburger Flugzeugbau Gmbh, Hamburg Jerman
(1965-1969). Kepala Metode dan Teknologi Divisi Pesawat Terbang
Komersial dan Militer MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen (1969-1973). Wakil
Presiden dan Direktur Teknologi MBB Gmbh Hambur dan Munchen (1973-1978),
penasehat teknologi senior untuk Direktur MBB bidang luar negeri
(1978). Pada tahun 1977 dia menyampaikan orasi jabatan guru besarnya
tentang konstruksi pesawat terbang di ITB Bandung.
Tergugah untuk melayani pembangunan bangsa, tahun 1974 B.J. Habibie
kembali ke tanah air, ketika Presiden Soeharto memintanya untuk kembali.
Dia memulai kariernya di tanah air sebagai Penasehat Pemerintah
Indonesia pada bidang teknologi tinggi dan teknologi pesawat terbang
yang langsung direspon oleh Presiden Republik Indonesia (1974-1978).
Pada tahun 1978 dia diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi
merangkap sebagai kepala BPPT. Dia memegang jabatan ini selama lima kali
berturut-turut dalam kabinet pembangunan hingga tahun 1998.
Sebelum masyarakat Indonesia menggelar pemilihan umum tahun 1997,
Habibie menyampaikan kepada keluarga dan kerabatnya secara terbatas
bahwa dia merencanakan berhenti dari jabatan selaku menteri setelah
Kabinet Pembangunan Enam berakhir. Namun, manusia merencanakan Tuhan
yang menentukan. Tanggal 11 Maret 1998, MPR memilih dan mengangkat B.J.
Habibie sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ketujuh.
Pada saat bersamaan, krisis ekonomi melanda kawasan Asia Tenggara
termasuk Indonesia, dan hal itu segera berdampak pada krisis politik dan
krisis kepercayaan. Kriris berubah menjadi serius dan masyarakat mulai
menuntut perubahan dan akhirnya tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto
mengumumkan pengunduran dirinya. Sesuai pasal 8 UUD 1945, pada hari yang
sama, sebelum itu, B.J. Habibie diambil sumpah jabatannya sebagai
Presiden oleh Ketua Mahkamah Agung RI.
Presiden B.J. Habibie memegang jabatan presiden selama 518 hari dan
selama masa itu, dibawah kepemimpinannya Indonesia tidak hanya sukses
menyelenggarakan pemilihan umum yang jujur dan adil pertama kali tanggal
7 Juni 1999, tetapi juga sukses membawa perubahan yang signifikan
terhadap stabilitas, demokratis dan reformasi.
Prof. B.J. Habibie mempunyai medali dan tanda jasa nasional dan
internasional, termasuk ‘Grand Officer De La Legium D’Honour, hadiah
tertinggi dari Pemerintah Perancis atas konstribusinya dan pembangunan
industri di Indonesia pada tahun 1997; ‘Das Grosskreuz’ medali tertinggi
atas konstribusinya dalam hubungan Jerman-Indonesia tahun 1987; ‘Edward
Warner Award, pemberian dari Dewan Eksekutif Organisasi Penerbangan
Sipil Internasional (ICAO) pada tahun 1994; ‘Star of Honour ‘Lagran Cruz
de la Orden del Merito Civil dari Raja Spanyol tahun 1987. Dia juga
menerima gelar doktor kehormatan dari sejumlah universitas, seperti
Institut Teknologi Cranfield, Inggris; Universitas Chungbuk Korea dan
beberapa universitas lainnya.
Selama kariernya, dia memegang 47 posisi penting seperti Direktur
Presiden IPTN Bandung, Presiden Direktur PT PAL Surabaya, Presiden
Direktur PINDAD, Ketua Otorita Pembangunan Kawasan Industri Batam,
Kepala Direktur Industri Strategis (BPIS) dan Ketua ICMI. Sampai
sekarang, ia masih menjabat sebagai Presiden Forum Islam Internasional
dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan pengembangan SDM sejak
tahun 1977, Penyantun dan Ketua Habibie Centre untuk urusan luar negeri
sejak tahun 1999.
Dia juga anggota beberapa institusi non pemerintah internasional seperti
Dewan Gerakan Internasional sejak tahun 2002, sebuah LSM yang
beranggotakan kurang lebih 40 orang mantan presiden dan Perdana Menteri
dari beberapa negara. Dia juga anggota pendiri Perkumpulan Islam
Internasional Rabithah ‘Alam Islam sejak tahun 2001 yang bermarkas besar
di Mekkah, Saudi Arabia. Dari semua organisasi yang disebutkan sebagian
besar telah meminta Habbie menjadi salah satu pendiri Asosiasi Etika
Internasional, Politik dan Ilmu Pengetahuan yang telah berdiri pada
tanggal 6 Oktober tahun 2003 di Bled Slovenia yang anggotanya terdiri
dari negarawan dan ilmuwan dari sejumlah negara.
Aktivitas sebelumnya terlibat dalam proyek perancangan dan desain
pesawat terbang seperti Fokker 28, Kendaraan Militer Transall C-130,
CN-235, N-250 dan N-2130. Dia juga termasuk perancang dan desainer yang
jlimet Helikopter BO-105, Pesawat Tempur, beberapa missil dan proyek
satelit. Prof B.J Habibie
mempublikasika
6. JOHNY SETIAWAN, Ph.D - Penemu Planet Pertama dan Bintang Muda
Johny Setiawan membuat mata dunia tercengang dengan penemuan planet pertama yang mengelilingi bintang baru TW Hydrae.
PENEMUAN itu sangat spektakuler karena dari 270 planet di luar tata
surya yang telah ditemukan astronom dalam 12 tahun terakhir, tak satu
pun planet yang muncul dari bintang muda.
Johny yang memimpin tim peneliti di Max Planck Institute for Astronomy
(MPIA), Heidelberg, Jerman itu menemukan planet pertama yang disebut TW
Hydrae b dan bintang baru TW Hydrae dengan menggunakan teleskop
spektrograf F EROS sepanjang 2,2 meter di La Silla Observatory, Chile.
”Ketika kami mengamati kecepatan lingkaran gas TW Hydrae, kami
mendeteksi sebuah variasi periodik yang tidak berasal dari aktivitas TW
Hydrae. Kami mengamati kehadiran sebuah planet baru (TW Hydrae b),”
ungkap Johny kepada SINDO tadi malam. Planet baru yang ditemukan itu
memiliki bobot sekitar sepuluh kali berat Planet Yupiter, planet
terbesar dalam Sistem Tata Surya.
Planet baru itu mengorbiti TW Hydrae dalam waktu 3,56 hari dengan jarak
sekitar 6 juta kilometer. Ini dapat disamakan dengan 4% jarak antara
Matahari dan Bumi. Dengan penemuan tim yang dipimpin Johny tersebut,
peneliti dapat membuat kesimpulan penting tentang waktu pembentukan
planet.Sejumlah pertanyaan pelik yang selama ini dihadapi peneliti,
seperti bagaimana dan di mana sistem planet terbentuk?
Bagaimana arsitektur planet? Seberapa lama proses pembentukannya?
Bagaimana posisi planet-planet seperti bumi di Galaksi Bima Sakti? Akan
segera terjawab. Johny menyadari pentingnya penemuannya tersebut. Dia
menjelaskan, bagaimana planet yang baru berumur 8–10 juta tahun (sekitar
1/500 tahun umur Matahari) itu sebagai sebuah kejutan di Tahun Baru
ini.
Peneliti lain dalam tim Johny menjelaskan bahwa pihaknya tidak salah
menyimpulkan bahwa planet baru itu memang muncul. ”Untuk menghindari
salah tafsir atas data, kami telah menginvestigasi seluruh aktivitas
yang mengindikasikan TW Hydrae b. Tapi karakteristik planet baru ini
sangat berbeda dari perputaran gas di lingkaran utama bintang baru itu.
Mereka lebih stabil dan memiliki periode yang pendek,” papar Ralf
Launhardt, koordinator program penelitian planet luar tata surya di
sekeliling bintang-bintang muda.
Planet terbentuk dari gas dan debu dalam sebuah cakram yang berputar
pendek setelah kelahiran sebuah bintang. Tidak keseluruhan proses
terbentuknya planet baru ini dipahami pakar. Meski demikian, penemuan TW
Hydrae b menyediakan teori baru tentang pembentukan planet.
Berdasarkan studi statistik, Johny memperkirakan rata-rata keadaan
cakram gas dan debu itu akan membentuk planet dalam waktu maksimal 10–30
juta tahun. Johny menandaskan, penemuan TW Hydrae b merupakan bukti
langsung bahwa pembentukan sebuah planet raksasa tidak bisa lebih lama
dari usia bintang yang diorbitinya, 8–10 juta tahun.
”Ini merupakan penemuan paling luar biasa dan spektakuler dalam studi
planet-planet di luar tata surya. Untuk pertama kali, kita telah
menemukan langsung bahwa planet-planet terbentuk dalam lingkaran cakram.
Penemuan TW Hydrae b membuka jalan untuk mengaitkan evaluasi lingkaran
cakram dengan proses pembentukan dan migrasi planet,” papar Thomas
Henning, direktur Planet and Star Formation Department di MPIA.
Johny memaparkan, peneliti di MPIA kini sedang mengembangkan peralatan
generasi baru untuk mendeteksi planet-planet dengan teknik berbeda.
Misalnya dengan instrumen baru astrometri untuk mengamati gerakan sebuah
bintang saat melintasi planet di antariksa, serta transit fotometri
untuk mengamati planet saat bergerak di depan bintang.
”Kita akan lebih memahami formasi planet saat kita mengetahui
keanekaragaman sistem planet. Kita akan mampu menempatkan Sistem Tata
Surya kita dalam sebuah konteks universal. Akhirnya, tentu di masa depan
kita dapat menjawab pertanyaan: ’apakah kita sendirian di Semesta?”
ungkap Johny yang baru tiba di Heidelberg setelah pekan lalu berlibur di
Jakarta.
Johny merupakan warga Indonesia yang tinggal di Kota Heidelberg, Jerman.
Sebagai seorang astronom yang sedang melakukan riset post doctoral,
pria kelahiran 16 Agustus 1974 di Jakarta itu mengaku telah memiliki
ketertarikan tentang perbintangan sejak kecil. Alumnus SD St.Fransiskus I
dan SMP Immaculata, Marsudirini, itu kemudian melanjutkan pendidikan di
SMA Fons Vitae I, Marsudirini, Jakarta.
Setamat SMA, pada 1992–1993,Johny mengenyam pendidikan pra-universitas
di Studienkolleg Heidelberg,Jerman. Johny kemudian mempelajari Fisika di
Albert-Ludwigs-Universitat, Freiburg, Jerman, dan mengambil Master di
Kiepenheuer-Institute for Solar Physics, Freiburg. Disertasinya di
Kiepenheuer-Institute for Solar Physics, Freiburg, berjudul Radial
velocity variation of G and K Giants.
Sejak Juni 2003, Johny bekerja sebagai peneliti post-doctoral di MPIA,
di Department of Planet and Star Formation (Prof. Dr.Thomas Henning).
Wilayah risetnya saat ini meliputi planet-planet di luar tata surya di
sekitar bintangbintang muda dan bintang-bintang yang sedang terbentuk.
Selain itu,Johny yang tinggal di Bintaro Sektor IX ini juga meneliti
atmosfer yang berperan sebagai bintang.
”Secara khusus saya bekerja di sejumlah proyek seperti ESPRI (Pencarian
Planet dengan PRIMA/ Phase-Referenced Imaging and Micro-arcsecond
Astrometry). Di sini saya menyeleksi dan mengamati karakteristik
bintangbintang untuk program pencarian planet,”ungkapnya. Sejak 2003,
Johny memimpin penelitian di observasi bintang dan planet ESO La Silla.
”Kami telah sukses mendeteksi sejumlah planet yang saling berhubungan,”
ungkap Johny yang memiliki kemampuan bahwa Jerman, Inggris, dan Spanyol.
Di tengah kesibukannya meneliti, Johny meluangkan waktu untuk
menyalurkan sejumlah hobi yang beragam, mulai memasak, jalan-jalan,
olahraga renang dan fitnes, melukis dengan akrilik, serta bermain piano.
sumber : http://nobelanakjisc6.blogspot.com/2011/02/6-orang-jenius-indonesia-yang-sukses-di.html